Bisnis apa yang bisa dikembangkan di internet
Beberapa hari lalu saya bertemu teman. Sudah lebih dari 5 tahun ia menyelesaikan studi S1-nya, tapi hingga kini hidupnya belum kunjung mapan. Belum kawin, pekerjaan nggak jelas, haha.. jadi teringat “Ketik Reg” iklan-iklan dukun gendeng yang belakangan ini ramai beredar di televisi. Kami terlibat ngobrol panjang. Seputar usaha yang prospektif. Saya sarankan dia membuka usaha. Ternak belut, atau berdagang. Dia bilang, dia merasa lebih cocok berdagang. Tapi kalau tempatnya sepi, repot juga, meski kita punya produk yang bagus. Sewa/beli tempat yang strategis harganya mahal.
Kemudian dia bertanya kepada saya. Kamu kayaknya hidup sudah berkecukupan. Pasti gaji dari pekerjaanmu banyaknya ya?
Saya tak menjawab bahwa gaji dari pekerjaan utama (disebut utama, karena untuk orang awam status ini lebih jelas dan lebih kentara) sedikit, tapi saya bilang cukup. Cukup untuk memenuhi kebutuhan, buat makan, buat bayar kontrakan dst. Tapi ngepas, nyaris tak ada sisa buat ditabung. Untuk beli NoteBook seperti ini (ketika itu saya sedang online dengan notebook saya yang lumayan keren), kalau ngandalin sisa dari gaji, alamat bakalan cumi (cuma mimpiii…).
Lha kamu emangnya beli NoteBook dari mana, kamu punya kerja sambilan lain ya. Jangan-jangan jadi Gigolo?
Hush.. Saya tatap matanya. Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin mengajarkannya bisnis internet. Setiap kali bertemu kawan ini mengeluh. Keinginan dia menjadi PNS belum juga kunjung tercapai. Malah beberapa tahun belakang ini dia tersesat ke dunia hitam. Ya, dia menghidupi dirinya di jalan. Saya tak akan menceritakannya lebih detail, karena ini aib orang. Tapi saya percaya, menganggur bisa menjadi celah orang berbuat menyimpang. Hidup ini memang perlu kerja, bukan hanya untuk uang, tapi untuk keseimbangan.
Saya tanya apakah dia serius. Dia mengangguk. Mulanya saya agak kesulitan harus memulainya dari mana. Tapi obrolan pembuka tadi, dia suka berdagang, tapi terkendala banyak biaya, saya langsung tercetus ide. Saya kira gambaran dia tentang berdagang atau berjualan secara offline sudah tidak ada masalah, lalu saya kenalkan bagaimana jika berdagang atau berjualan itu dikerjakan melalui internet.
Pertama, saya bilang kepadanya, kamu tak perlu membayar biaya sewa tempat berjualan yang mahal. Biaya yang harus kamu keluarkan lebih sedikit, malah bisa gratis, kalau mau pakai website gratisan. Tapi lebih baik, pakai hosting sendiri, juga domainnya. Untuk situs penjualan, brand itu penting. Jika dibanding biaya sewa tempat atau lapak di tempat yang ramai, biaya untuk membangun situs (setidaknya dengan situs yang sederhana) jauh lebih murah.
Kedua, hemat tenaga. Bayangkan jika kita berjualan secara offline. Kerja terpatok oleh waktu. Kita harus senantiasa menunggui toko. Harus bertemu langsung. Harus berulang-ulang menjelaskan. Tapi dengan pemasaran online model website, kita tak perlu menjaganya seperti menunggui tempat jualan. Kita bisa melakukannya sambil tiduran. Tak perlu menjelaskannya secara berulang-ulang. Materi tentang produk, bisa dipaparkan diwebsite. Kalaupun ada yang bertanya, memang butuh penjelasan lebih detail, dan calon pembeli serius. Semuanya bisa dikerjakan dikamar, sambil ngopi, sambil tiduran, pakai sarung, tak perlu pakai seragam….
Terus bagaimana cara kerjanya?
Saya tahu dia rada awam soal desain mendesain website. Boro-boro itu, jam terbang dia di internet saja masih sangat kurang. Kamu masih perlu banyak riset tentang bagaimana menjalankan usaha secara online, baik itu menjual jasa, atau barang. Saya bilang, kamu sudah punya bekal menjalankan usaha dagang secara offline, itu nilai plus. Tapi itu belum cukup. Kamu tak perlu belajar bagaimana membangun situs penjualannya sendiri, setidaknya untuk sekarang. Itu bisa dikerjakan orang lain.
Yang perlu dipikirkan lebih dulu, produk apa yang ingin kamu jual. Orientasi tentang produk yang akan dijual, juga silakan riset dulu. Nggak mungkin kan kita jualan pecel secara online. Ini bisa terjadi di luar negeri di mana tingkat akses internet sudah menjadi kebutuhan tiap orang, yang semuanya serba dikerjakan secara online. Tapi melihat kondisi di negara kita ini, internet masih menjadi komoditas kelas terpelajar, kalau dilihat dari sisi pendidikan, dan kelas menengah ke atas, kalau di lihat dari sisi ekonomi. Apa perlunya dengan hal itu? Itu penting untuk membidik pasar, produk apa yang cocok untuk pasar internet orang indonesia.
Saya tanya dia, usaha dagang apa saja yang sudah pernah dia jalani? Dia bilang, pernah berjualan kosmetik, pernah berbisnis Tianshi tapi hanya sempat berjalan setahun, pernah menyetok sayur dari satu pasar ke pasar lain di beberapa wilayah di jawa, pernah juga mengambil sarung dari pekalongan di bawa ke pasar Tanah Abang.
Saya tunjukkan ada situs yang dibuat oleh member Tianshi. Saya bilang, bedanya situs yang hanya menjual produk dan ingin membuat jaringan beda. Kalau hanya untuk menjual produk, cukup sampaikan secara detail produk itu, apa kegunaannya, bagaimana khasiatnya, harganya yang mriing, sudah cukup. Tapi jika itu dibuat tak hanya untuk menarik pengunjung membeli produk, tapi juga mengembangkan jaringan, sampaikan juga peluang jika seseorang bergabung menjadi anggota. Ya, sebenarnya secara materi pemasaran tak jauh beda, tapi agar tepat sasaran perlu survey target pasar, juga beberapa model situs penjualan.
Kamu belum jawab, apa kerja sambilanmu? Apakah dari bisnis internet, apakah kamu jualan produk di internet seperti yang kamu jelaskan tadi. Lalu produk apa yang kamu jual?
Aku tak jualan barang. Tapi jual abab. Hahaha… Saya tunjukkan dia screenshot pembayaran di paypal, saya lihat dia geleng-geleng kepala. Saya biarkan saja dia penasaran, habis itu akan saya buat dia minder.
Ya, bagi saya lebih baik mengatakan bahwa pekerjaan ini tidak mudah, dari pada mengatakan pada orang yang mau belajar “ini mudah kok, kita bisa dengan mudah dapat duit dari internet.” Membuka perkenalan dengan cara iming2 mudah, akan menjaring kader-kader karbitan, cepat frustasi, dan akhirnya akan menyalahkan kita, selaku yang mengenalkannya. Lebih baik katakan, ini tidak mudah, kamu perlu bekerja keras, banyak belajar, apakah kamu siap?
Rabu, 18 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar