Bisnis internet apa yang saat ini anda ikuti, apakah sudah bisa membuat anda merasa cukup secara finansial? Saya sendiri belum bisa mengatakan bahwa saya secara finansial sudah kecukupan.
Masih banyak keinginan yang belum terpenuhi, dan saya tunda karena budget yang belum mencukupi. Target saya tak muluk, saya bisa memenuhi kebutuhan saya sendiri dan membantu keluarga dan orang-orang terdekat saya, saya kira sudah lebih dari cukup.
Saya sudah hampir dua tahun menekuni bisnis adsense, dan baru beberapa kali menerima cek. Adsense memang bukan pemasukan utama saya dari bisis internet. Untuk satu tahun belakang ini, yang paling banyak mensupport keuangan saya adalah dari bisnis paid review, tapi jujur, saya melihat bisnis ini susah untuk mendatangkan penghasilan dalam jumlah yang besar, seperti para pebisnis Adsense atau Clickbank ataupun CJ dan internet marketing yang sudah sukses. Tapi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, penghasilan dari paid review sudah lebih dari cukup.
Saya sedang membangun sebuah situs untuk penerbitan ebook. Konsepnya sederhana, dalam dunia digital ini, dokumentasi dalam bentuk digital akan menjadi lebih praktis dan pada akhirnya orang akan membutuhkannya. Selain itu, bagi sebagian penulis pemula, menerbitkan buku akan menjadi hal yang sulit, selain terkendala dana, juga rumitnya birokrasi penerbitan konvensional. Situs itu akan menjembatani para penuluis pemula untuk menerbitkan buku. Saya banyak berharap usaha ini di masa mendatang akan berkembang. Mungkin tak bisa dipetik hasilnya dalam waktu singkat, tapi prosesnya barangkali akan memakan banyak waktu, tanaga dan juga pikiran.
Related Posts
Rabu, 18 Februari 2009
Mengenalkan Bisnis Internet pada pemula (2)

Membidik calon pengiklan untuk situs/blog anda
Bisnis internet sering diartikan sebagai usaha yang mendatangkan penghasilan yang dikerjakan melalui medium internet. Di tulisan sebelumnya, saya sudah sampaikan, pada prinsipnya antara bisnis offline dan bisnis online (internet) hampir sama. Kata bisnis mengacu pada usaha untuk mendatangkan keuntungan. Namun karena medium yang berbeda, maka secara teknis pelaksanaanya keduanya punya cara masing-masing.
Kurangnya pengetahuan tentang internet dan bagaimana dampak yang ditimbulkan, sejumlah pengiklan akan memilih mengiklankan produknya di media offline (cetak) ketimbang di situs/media online. Mereka menganggap pangsa pembaca media cetak tampak jelas sehingga akan lebih mudah untuk memetakan siapa saja target pasarnya. Sebaliknya, beriklan di media online kurang populer karena target yang tidak jelas.
Sebenarnya tak semuanya salah, jika memilih beriklan di media cetak karena pertimbangan pangsa pasar mereka masih bersifat lokal. Jika alasannya ini, maka pemilihan beriklan di media cetak lebih tepat karena tingkat akses internet di tingkat lokal yang masih rendah.
Namun yang terjadi, dari beberapa keluhan curhat teman yang mengelola media online, bahkan ditemukan beberapa pelaku usaha yang sudah punya nama masih awam soal internet. Akibatnya ketika ditawari beriklan di situs internet mereka menolak karena alasan yang sebenarnya menggelikan.
Jika anda pengelola situs online, jangan salahkan calon pengiklan yang masih awam. Adalah kewajiban para pengelola situs online untuk memberikan gambaran tentang manajemen situs online dan pengaruhnya. Jika para calon pengiklan itu sudah mengerti apa saja kelebihan memasang iklan di situs online ktimbang di media cetak, maka dengan sendirinya secara bertahap akan ada peningkatan pengiklan situs internet.
Kelebihan memasang situs di internet jika dibanding memasang iklan di media cetak, misalnya, target pembaca/pengakses yang tak terbatas. Kemudian, iklan yang dipasang bisa dilihat kapanpun, dan akan tersimpan di database. Banyangkan, jika iklan dipasang di media cetak, apalagi harian, maka peluang iklan untuk dilihat tak bertahan lama. Paling mungkin jika kertas koran dipakai untuk bungkus jajanan, atau nasi kucing, dan karena saking telatennya, kertas pembungkus itu dibaca terlebih dulu sebelum dilempar ke tempat sampah.
Tapi perlu juga diperhatikan, karena sejumlah pertimbangan, tidak semua produk/usaha bisa diiklankan di internet. Tentukan siapa saja target pengiklan, bagaiamana pengaruhnya jika mereka memasang di situs anda, siapa saja pengunjungnya, datang dari mana, secara geografis, kelas sosial, atau yang lebih spesifik lainnya.
Saya yakin, jika sebuah situs, bahkan blog sekalipun, jika dikelola secara baik, akan bisa menarik para pengiklan untuk memasang iklannya di situs/blog kita. Yang utama tentu saja konten situs/blog kita, lalu dikonsep pula tata letak iklannya yang menarik. Tool untuk pemantau pengunjung yang bisa ditunujukkan sebagai laporan kepada pengiklan dan hal lain yang lebih bersifat teknis.
Yang saya perbincangkan di sini adalah model pengiklan langsung (direct ads), yakni anda selaku pengelola situs/blog menghubungi langsung calon pengiklan anda. Bentuk iklan bisa berupa banner atau text.
Jika target pembaca situs/blog anda berskala internasional, karena misalnya, menggunakan bahasa inggris, maka anda bisa mendaftarkan situs/blog anda dengan sejumlah media periklan online berskala internasional. Ada banyak macam, model PPC (semacam adsese, adbrite, bidvertiser, dll), program afiliasi (peperjam, clickbank, afiliate junction, dll). Sekarang juga sudah bermunculan periklan online yang dikelola oleh orang Indonesia, namun dari yang saya amati masih kurang variatif. Semoga saja ke depan bisa menjadi lebih besar.
:: posting ini adalah bagian kedua dari topik mengenalkan bisnis internet pada pemula. jika anda belum membaca bagian pertama, silakan buka artikel Bisnis apa yang bisa dikembangkan di internet
Mengenalkan bisnis internet pada pemula (1)
Bisnis apa yang bisa dikembangkan di internet
Beberapa hari lalu saya bertemu teman. Sudah lebih dari 5 tahun ia menyelesaikan studi S1-nya, tapi hingga kini hidupnya belum kunjung mapan. Belum kawin, pekerjaan nggak jelas, haha.. jadi teringat “Ketik Reg” iklan-iklan dukun gendeng yang belakangan ini ramai beredar di televisi. Kami terlibat ngobrol panjang. Seputar usaha yang prospektif. Saya sarankan dia membuka usaha. Ternak belut, atau berdagang. Dia bilang, dia merasa lebih cocok berdagang. Tapi kalau tempatnya sepi, repot juga, meski kita punya produk yang bagus. Sewa/beli tempat yang strategis harganya mahal.
Kemudian dia bertanya kepada saya. Kamu kayaknya hidup sudah berkecukupan. Pasti gaji dari pekerjaanmu banyaknya ya?
Saya tak menjawab bahwa gaji dari pekerjaan utama (disebut utama, karena untuk orang awam status ini lebih jelas dan lebih kentara) sedikit, tapi saya bilang cukup. Cukup untuk memenuhi kebutuhan, buat makan, buat bayar kontrakan dst. Tapi ngepas, nyaris tak ada sisa buat ditabung. Untuk beli NoteBook seperti ini (ketika itu saya sedang online dengan notebook saya yang lumayan keren), kalau ngandalin sisa dari gaji, alamat bakalan cumi (cuma mimpiii…).
Lha kamu emangnya beli NoteBook dari mana, kamu punya kerja sambilan lain ya. Jangan-jangan jadi Gigolo?
Hush.. Saya tatap matanya. Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin mengajarkannya bisnis internet. Setiap kali bertemu kawan ini mengeluh. Keinginan dia menjadi PNS belum juga kunjung tercapai. Malah beberapa tahun belakang ini dia tersesat ke dunia hitam. Ya, dia menghidupi dirinya di jalan. Saya tak akan menceritakannya lebih detail, karena ini aib orang. Tapi saya percaya, menganggur bisa menjadi celah orang berbuat menyimpang. Hidup ini memang perlu kerja, bukan hanya untuk uang, tapi untuk keseimbangan.
Saya tanya apakah dia serius. Dia mengangguk. Mulanya saya agak kesulitan harus memulainya dari mana. Tapi obrolan pembuka tadi, dia suka berdagang, tapi terkendala banyak biaya, saya langsung tercetus ide. Saya kira gambaran dia tentang berdagang atau berjualan secara offline sudah tidak ada masalah, lalu saya kenalkan bagaimana jika berdagang atau berjualan itu dikerjakan melalui internet.
Pertama, saya bilang kepadanya, kamu tak perlu membayar biaya sewa tempat berjualan yang mahal. Biaya yang harus kamu keluarkan lebih sedikit, malah bisa gratis, kalau mau pakai website gratisan. Tapi lebih baik, pakai hosting sendiri, juga domainnya. Untuk situs penjualan, brand itu penting. Jika dibanding biaya sewa tempat atau lapak di tempat yang ramai, biaya untuk membangun situs (setidaknya dengan situs yang sederhana) jauh lebih murah.
Kedua, hemat tenaga. Bayangkan jika kita berjualan secara offline. Kerja terpatok oleh waktu. Kita harus senantiasa menunggui toko. Harus bertemu langsung. Harus berulang-ulang menjelaskan. Tapi dengan pemasaran online model website, kita tak perlu menjaganya seperti menunggui tempat jualan. Kita bisa melakukannya sambil tiduran. Tak perlu menjelaskannya secara berulang-ulang. Materi tentang produk, bisa dipaparkan diwebsite. Kalaupun ada yang bertanya, memang butuh penjelasan lebih detail, dan calon pembeli serius. Semuanya bisa dikerjakan dikamar, sambil ngopi, sambil tiduran, pakai sarung, tak perlu pakai seragam….
Terus bagaimana cara kerjanya?
Saya tahu dia rada awam soal desain mendesain website. Boro-boro itu, jam terbang dia di internet saja masih sangat kurang. Kamu masih perlu banyak riset tentang bagaimana menjalankan usaha secara online, baik itu menjual jasa, atau barang. Saya bilang, kamu sudah punya bekal menjalankan usaha dagang secara offline, itu nilai plus. Tapi itu belum cukup. Kamu tak perlu belajar bagaimana membangun situs penjualannya sendiri, setidaknya untuk sekarang. Itu bisa dikerjakan orang lain.
Yang perlu dipikirkan lebih dulu, produk apa yang ingin kamu jual. Orientasi tentang produk yang akan dijual, juga silakan riset dulu. Nggak mungkin kan kita jualan pecel secara online. Ini bisa terjadi di luar negeri di mana tingkat akses internet sudah menjadi kebutuhan tiap orang, yang semuanya serba dikerjakan secara online. Tapi melihat kondisi di negara kita ini, internet masih menjadi komoditas kelas terpelajar, kalau dilihat dari sisi pendidikan, dan kelas menengah ke atas, kalau di lihat dari sisi ekonomi. Apa perlunya dengan hal itu? Itu penting untuk membidik pasar, produk apa yang cocok untuk pasar internet orang indonesia.
Saya tanya dia, usaha dagang apa saja yang sudah pernah dia jalani? Dia bilang, pernah berjualan kosmetik, pernah berbisnis Tianshi tapi hanya sempat berjalan setahun, pernah menyetok sayur dari satu pasar ke pasar lain di beberapa wilayah di jawa, pernah juga mengambil sarung dari pekalongan di bawa ke pasar Tanah Abang.
Saya tunjukkan ada situs yang dibuat oleh member Tianshi. Saya bilang, bedanya situs yang hanya menjual produk dan ingin membuat jaringan beda. Kalau hanya untuk menjual produk, cukup sampaikan secara detail produk itu, apa kegunaannya, bagaimana khasiatnya, harganya yang mriing, sudah cukup. Tapi jika itu dibuat tak hanya untuk menarik pengunjung membeli produk, tapi juga mengembangkan jaringan, sampaikan juga peluang jika seseorang bergabung menjadi anggota. Ya, sebenarnya secara materi pemasaran tak jauh beda, tapi agar tepat sasaran perlu survey target pasar, juga beberapa model situs penjualan.
Kamu belum jawab, apa kerja sambilanmu? Apakah dari bisnis internet, apakah kamu jualan produk di internet seperti yang kamu jelaskan tadi. Lalu produk apa yang kamu jual?
Aku tak jualan barang. Tapi jual abab. Hahaha… Saya tunjukkan dia screenshot pembayaran di paypal, saya lihat dia geleng-geleng kepala. Saya biarkan saja dia penasaran, habis itu akan saya buat dia minder.
Ya, bagi saya lebih baik mengatakan bahwa pekerjaan ini tidak mudah, dari pada mengatakan pada orang yang mau belajar “ini mudah kok, kita bisa dengan mudah dapat duit dari internet.” Membuka perkenalan dengan cara iming2 mudah, akan menjaring kader-kader karbitan, cepat frustasi, dan akhirnya akan menyalahkan kita, selaku yang mengenalkannya. Lebih baik katakan, ini tidak mudah, kamu perlu bekerja keras, banyak belajar, apakah kamu siap?
Beberapa hari lalu saya bertemu teman. Sudah lebih dari 5 tahun ia menyelesaikan studi S1-nya, tapi hingga kini hidupnya belum kunjung mapan. Belum kawin, pekerjaan nggak jelas, haha.. jadi teringat “Ketik Reg” iklan-iklan dukun gendeng yang belakangan ini ramai beredar di televisi. Kami terlibat ngobrol panjang. Seputar usaha yang prospektif. Saya sarankan dia membuka usaha. Ternak belut, atau berdagang. Dia bilang, dia merasa lebih cocok berdagang. Tapi kalau tempatnya sepi, repot juga, meski kita punya produk yang bagus. Sewa/beli tempat yang strategis harganya mahal.
Kemudian dia bertanya kepada saya. Kamu kayaknya hidup sudah berkecukupan. Pasti gaji dari pekerjaanmu banyaknya ya?
Saya tak menjawab bahwa gaji dari pekerjaan utama (disebut utama, karena untuk orang awam status ini lebih jelas dan lebih kentara) sedikit, tapi saya bilang cukup. Cukup untuk memenuhi kebutuhan, buat makan, buat bayar kontrakan dst. Tapi ngepas, nyaris tak ada sisa buat ditabung. Untuk beli NoteBook seperti ini (ketika itu saya sedang online dengan notebook saya yang lumayan keren), kalau ngandalin sisa dari gaji, alamat bakalan cumi (cuma mimpiii…).
Lha kamu emangnya beli NoteBook dari mana, kamu punya kerja sambilan lain ya. Jangan-jangan jadi Gigolo?
Hush.. Saya tatap matanya. Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin mengajarkannya bisnis internet. Setiap kali bertemu kawan ini mengeluh. Keinginan dia menjadi PNS belum juga kunjung tercapai. Malah beberapa tahun belakang ini dia tersesat ke dunia hitam. Ya, dia menghidupi dirinya di jalan. Saya tak akan menceritakannya lebih detail, karena ini aib orang. Tapi saya percaya, menganggur bisa menjadi celah orang berbuat menyimpang. Hidup ini memang perlu kerja, bukan hanya untuk uang, tapi untuk keseimbangan.
Saya tanya apakah dia serius. Dia mengangguk. Mulanya saya agak kesulitan harus memulainya dari mana. Tapi obrolan pembuka tadi, dia suka berdagang, tapi terkendala banyak biaya, saya langsung tercetus ide. Saya kira gambaran dia tentang berdagang atau berjualan secara offline sudah tidak ada masalah, lalu saya kenalkan bagaimana jika berdagang atau berjualan itu dikerjakan melalui internet.
Pertama, saya bilang kepadanya, kamu tak perlu membayar biaya sewa tempat berjualan yang mahal. Biaya yang harus kamu keluarkan lebih sedikit, malah bisa gratis, kalau mau pakai website gratisan. Tapi lebih baik, pakai hosting sendiri, juga domainnya. Untuk situs penjualan, brand itu penting. Jika dibanding biaya sewa tempat atau lapak di tempat yang ramai, biaya untuk membangun situs (setidaknya dengan situs yang sederhana) jauh lebih murah.
Kedua, hemat tenaga. Bayangkan jika kita berjualan secara offline. Kerja terpatok oleh waktu. Kita harus senantiasa menunggui toko. Harus bertemu langsung. Harus berulang-ulang menjelaskan. Tapi dengan pemasaran online model website, kita tak perlu menjaganya seperti menunggui tempat jualan. Kita bisa melakukannya sambil tiduran. Tak perlu menjelaskannya secara berulang-ulang. Materi tentang produk, bisa dipaparkan diwebsite. Kalaupun ada yang bertanya, memang butuh penjelasan lebih detail, dan calon pembeli serius. Semuanya bisa dikerjakan dikamar, sambil ngopi, sambil tiduran, pakai sarung, tak perlu pakai seragam….
Terus bagaimana cara kerjanya?
Saya tahu dia rada awam soal desain mendesain website. Boro-boro itu, jam terbang dia di internet saja masih sangat kurang. Kamu masih perlu banyak riset tentang bagaimana menjalankan usaha secara online, baik itu menjual jasa, atau barang. Saya bilang, kamu sudah punya bekal menjalankan usaha dagang secara offline, itu nilai plus. Tapi itu belum cukup. Kamu tak perlu belajar bagaimana membangun situs penjualannya sendiri, setidaknya untuk sekarang. Itu bisa dikerjakan orang lain.
Yang perlu dipikirkan lebih dulu, produk apa yang ingin kamu jual. Orientasi tentang produk yang akan dijual, juga silakan riset dulu. Nggak mungkin kan kita jualan pecel secara online. Ini bisa terjadi di luar negeri di mana tingkat akses internet sudah menjadi kebutuhan tiap orang, yang semuanya serba dikerjakan secara online. Tapi melihat kondisi di negara kita ini, internet masih menjadi komoditas kelas terpelajar, kalau dilihat dari sisi pendidikan, dan kelas menengah ke atas, kalau di lihat dari sisi ekonomi. Apa perlunya dengan hal itu? Itu penting untuk membidik pasar, produk apa yang cocok untuk pasar internet orang indonesia.
Saya tanya dia, usaha dagang apa saja yang sudah pernah dia jalani? Dia bilang, pernah berjualan kosmetik, pernah berbisnis Tianshi tapi hanya sempat berjalan setahun, pernah menyetok sayur dari satu pasar ke pasar lain di beberapa wilayah di jawa, pernah juga mengambil sarung dari pekalongan di bawa ke pasar Tanah Abang.
Saya tunjukkan ada situs yang dibuat oleh member Tianshi. Saya bilang, bedanya situs yang hanya menjual produk dan ingin membuat jaringan beda. Kalau hanya untuk menjual produk, cukup sampaikan secara detail produk itu, apa kegunaannya, bagaimana khasiatnya, harganya yang mriing, sudah cukup. Tapi jika itu dibuat tak hanya untuk menarik pengunjung membeli produk, tapi juga mengembangkan jaringan, sampaikan juga peluang jika seseorang bergabung menjadi anggota. Ya, sebenarnya secara materi pemasaran tak jauh beda, tapi agar tepat sasaran perlu survey target pasar, juga beberapa model situs penjualan.
Kamu belum jawab, apa kerja sambilanmu? Apakah dari bisnis internet, apakah kamu jualan produk di internet seperti yang kamu jelaskan tadi. Lalu produk apa yang kamu jual?
Aku tak jualan barang. Tapi jual abab. Hahaha… Saya tunjukkan dia screenshot pembayaran di paypal, saya lihat dia geleng-geleng kepala. Saya biarkan saja dia penasaran, habis itu akan saya buat dia minder.
Ya, bagi saya lebih baik mengatakan bahwa pekerjaan ini tidak mudah, dari pada mengatakan pada orang yang mau belajar “ini mudah kok, kita bisa dengan mudah dapat duit dari internet.” Membuka perkenalan dengan cara iming2 mudah, akan menjaring kader-kader karbitan, cepat frustasi, dan akhirnya akan menyalahkan kita, selaku yang mengenalkannya. Lebih baik katakan, ini tidak mudah, kamu perlu bekerja keras, banyak belajar, apakah kamu siap?
Langganan:
Postingan (Atom)

